Skip to main content
FY
All articles
Essay

Anterior Cingulate Cortex dan Mengapa Warung Makan Akhir-Akhir Ini Terasa Dingin

Tetapi tubuh kita sedang entah di mana. Memeluk kesendirian masing-masing. Alangkah tabah sepasang baju penghangat. Kedinginan di dalam dua…

  • Essay
  • Medium archive
Originally published on Medium

Photo by Pascal van de Vendel on Unsplash

Photo by Pascal van de Vendel on Unsplash

Tetapi tubuh kita sedang entah di mana.
Memeluk kesendirian masing-masing.
Alangkah tabah sepasang baju penghangat.
Kedinginan di dalam dua lemari yang tinggal
berjauhan tanpa saling tahu alamat.

Alangkah iri sepasang baju penghangat
mendengar kabar musim hujan sangat mencintai
tahun yang berjalan lambat.
Sementara tubuh kita sedang entah di mana.
Memeluk kesepian masing-masing.

Sepasang Baju Penghangat, M. Aan Mansyur

Duduk sendiri di meja panjang di pojok warung makan berukuran 4x5 meter, di depan, ibu penjual sibuk menyiapkan beberapa bungkus nasi campur pesanan orang lain, sementara pegawainya bergegas mengambil piring dan menyiapkan pesanan. Tak lama kemudian, ia datang dengan sepiring nasi yang diguyur sayur sop berisi potongan wortel, kentang, kacang panjang, dan daun kol. Sepasang lauk berupa tempe dan dadar jagung menemani di pinggir nasi yang tidak terlalu menggunung, dengan tambahan di sebelah piring, segelas teh hangat tawar turut menemani. Di pagi menjelang siang itu, entah kenapa masih terasa dingin, padahal, kota ini selalu membikin gerah. Dan seperti biasa, sendok di tangan kanan, smartphone di tangan kiri. Lantas mulai membuka apapun agar pandangan tak beralih antara sepiring nasi dan layar smartphone yang menampilkan entah apa, hanya biar terlihat sibuk saja.

Ketika kamu bertanya, “kok enak, sih, makan sendirian di warung, gitu?” Aku tak merasakan hal yang aneh atau tidak enak, sebab seperti yang selalu kukatakan padamu, aku cuek saja dengan sekitar, makan, ya tinggal makan. Namun akhir-akhir aku mulai sadar, apakah sebenarnya aku merasa sepi (ya, iya mas, ‘kan sendirian makannya) atau aku yang denial? Hmm…

Barangkali aku masih penuh bantahan soal makan, atau berkegiatan lain yang seringkali kulakukan sendiri, tapi untuk banyak orang butuh dilakukan bersama-sama. Tapi satu hal yang aku tahu, sepi itu menyakitkan. Memang, tak harus mengalami kejadian kehilangan seseorang, kejadian-kejadian dramatis, atau tiba-tiba ditinggal sendiri saat masih terlelap tidur di pagi hari. Hal-hal sepele seperti tak diacuhkan pada obrolan grup Whatsapp, merasa diabaikan, merasa seringkali tak diikutkan dalam setiap percakapan, juga menyakitkan. Barangkali bagi sebagian orang, “Ah gitu aja, cuma perasaan doang.” Tidak, kawan! Kata penelitian, sih, otak kita tidak punya kategori khusus untuk rasa sakit “sosial” (hati mungkin yang bisa ngerasain, ya). Waktu itu, beberapa peneliti melakukan eksperimen sosial terhadap rasa dikucilkan. Menggunakan alat fMRI, peneliti ini memindai aktivitas otak partisipan saat mereka bermain sebuah game lempar bola virtual bernama “CyberBall”. Permainan ini kayak main lempar tangkap bola bersama dua orang lain, yang mana partisipan tidak tahu kalau dua orang ini sebenarnya adalah bot. Awalnya partisipan tidak mendapat lemparan bola, lantas ia diberi tahu kalau terjadi kesalahan teknis, jadi ia hanya bisa melihat dua orang pemain saling bermain. Lalu partisipan ikut bermain bersama dua bot ini, akhirnya dia dilibatkan dalam permainan dan mereka saling melempar bola dengan kedua pemain lain. Semua terasa menyenangkan dan normal. Lantas selang beberapa waktu kemudian, seetelah menerima sekitar tujuh lemparan bola, mendadak kedua pemain lain berhenti memberikan bola kepada partisipan dan hanya melempar bola di antara mereka berdua selama sisa permainan, partisipan tidak tahu kalau ia sedang dikucilkan, ia seolah-olah sedang dijauhi oleh kedua pemain lain. Hasilnya, ada bagian otak yang semakin bereaksi aktif ketika partisipan dikucilkan secara eksplisit. Yang menarik adalah, bagian otak yang bereaksi ini adalah Anterior Cingulate Cortex, yang dikenal sebagai “sistem alarm” saraf untuk mendeteksi konflik dan rasa sakit fisik. Dan semakin tinggi rasa menderita yang dilaporkan oleh partisipan, semakin aktif pula area ACC ini menyala di layar pemindai. Ora ngiro saiki ne cidro~.

Nah, sekarang kalau sudah tahu kalau kita juga merasakan sakit yang sama seperti sakit fisik saat dikucilkan, masa chat dari orang-orang mau kamu abaikan? Setidaknya berkabar, meskipun sedang tak terjadi apa-apa.

Photo by Andraz Lazic on Unsplash

Photo by Andraz Lazic on Unsplash

Sebenarnya, ada bagian otak lain yang juga ikut aktif saat kita dikucilkan, yaitu Korteks Prefrontal Ventral Kanan (RVPFC). Area ini, yang sebelumnya diketahui berfungsi meredam rasa sakit fisik, ikut bekerja keras saat partisipan dikucilkan. RVPFC berusaha menenangkan penderitaan tersebut dengan cara menekan aktivitas alarm di ACC. Semakin kuat RVPFC bekerja, semakin berkurang rasa sakit yang dirasakan oleh partisipan. Jangan lupa berterima kasih pada dirimu sendiri yaa, jangan dimarahin terus, kasian. Tapi, sepi tak hanya melukai bagian otakmu saja, sepi itu kejam, kawan. Seperti dendam dan rindu yang kata Eka Kurniawan harus dibayar lunas, rasa sepi harus kontan ditunaikan. Kita mungkin sering merasa, di momen tertentu yang sulit dijelaskan, tubuh rasanya kayak lebih berat, lebih dingin, lebih ingin sesuatu yang hangat. Secangkir kopi, selimut tebal, atau sekadar menurunkan kecepatan kipas angin yang menempel di tembok (ga mas, awakmu tok sing ngunu, liyane uripe normal). Bukan galau, sih, tapi itu gara-gara kesepian, jadi tubuh merasa jadi lebih dingin.

Pada 2008, dua peneliti dari University of Toronto dan Northwestern University melakukan eksperimen sederhana (sohib banget, mas). Satu kelompok diminta mengingat pengalaman dikucilkan secara sosial. Kelompok lain diminta mengingat pengalaman diterima dan dilibatkan. Setelah itu, semua partisipan diminta mengestimasi suhu ruangan tempat mereka duduk. Kelompok yang mengingat pengalaman dikucilkan mengestimasi suhu ruangan rasanya lebih rendah dibanding kelompok satunya. Ruangannya sama, suhunya sama, tapi yang dirasakan berbeda. Ya memang, tubuh kita bukan alat ukur yang akurat untuk mengukur suhu, tapi dalam kondisi seperti ini, bukankah kita lebih percaya diri kita sendiri daripada faktor eksternal? Dan lebih jauh lagi: mereka juga cenderung memilih makanan dan minuman hangat setelah eksperimen. Sup, teh, cokelat panas, dibanding yang dingin. Ini by data, lho ya, jadi bukan berdasarkan “kayaknya”, “perosoku”, atau “aku sih ga gitu, ya”.

Penjelasannya ada di sesuatu yang disebut embodied simulation, cara otak menggunakan sensasi fisik sebagai bahasa untuk memproses kondisi sosial. Kehangatan sosial dan kehangatan fisik ga cuma kerasa mirip secara metaforis. Uayak jalur pulang ke rumah melewati pasar Tanjung, pengguna jalan dan orang berjualan berbagi lorong yang sama, di otak, keduanya berbagi jalur neurologis yang sama. Otak yang merasa ditinggalkan dan otak yang merasa kedinginan sedang menggunakan bagian yang sama untuk berteriak minta tolong. Makanya waktu kita sepi, tubuh tidak hanya ikut sedih. Tubuh ikut menggigil. Kalau kata almarhum Pak Sapardi,

terjaga di kursi ketika cahaya bulan jatuh di wajahku dari genting kaca… di tengah malam itu ia nampak begitu dingin dan fana

Photo by Elimende Inagella on Unsplash

Photo by Elimende Inagella on Unsplash

Terus, kalau semangkok sup hangat dan secangkir coklat panas tidak menyembuhkan, lantas apa yang bisa menyembuhkan? Sholat malam dan berkumpul dengan orang sholeh! Hehe…

Kayaknya, sih, bisa, tapi pakai prinsip termodinamika (mamam!). Manusia, seperti kebanyakan hewan sosial, secara evolusi menggunakan satu sama lain sebagai sumber panas fisik. Hidup dan tidur bergerombol, berdempetan di malam yang dingin bukan karena modus atau iseng yaa, tapi buat survival. Dipikir, kenapa pas cuaca dingin kita suka gosok-gosok tangan? Ya buat survival thermoregulation, kan nanti ada konduksi panas, nah nanti panasnya pindah tuh dari bagian tangan bersuhu lebih tinggi ke yang lebih rendah, melalui kontak langsung. Kulit kita kan punya thermoreceptors, pas dia ngirim sinyal ke otak kalau ada rasa hangat, bisa aja diterjemahkan jadi rasa aman. Nah makanya, kalau pamit pulang, peluk orang di rumah, biar ngerasa aman di perjalanan dan di tanah rantau. Pelukan ‘kan juga memicu pelepasan oksitosin. Kortisol (hormon stres) jadi turun. Detak jantung melambat. Dan persepsi suhu tubuh meningkat.

Dih, sok tau lu bang!

Jadi bukan karena butuh pelukan terus dianggap lemah, ya. Bukan juga karena ingin ditemani terus manja. Cuma lagi menjalankan protokol survival yang sudah berjalan sejak sebelum manusia tahu cara membuat api atau roda. Ya meskipun, berkata “aku kesepian” kedengarannya lebih lemah daripada bilang, “lagi ga enak badan, nih”. Nanti malah muncul tatapan bingung, diem bentar trus, responnya, “yaudah keluar main sama temen,” seolah sepi adalah masalah logistik (JNE kali) yang bisa diselesaikan dengan menambah jumlah orang di sekitar kita. Padahal kita sudah tahu itu bukan cara kerjanya. Sakit fisik dan sakit sosial meminjam infrastruktur yang sama di dalam otak. Tapi satu dianggap valid, satu dianggap lemah. Kita secara tidak sadar merasa malu pada sesuatu yang sebetulnya biologis, sesuatu yang bahkan tidak kita pilih untuk dirasakan.

Saat kecil, ketika merasa kesepian, kita mungkin saja dengan gampangnya berlari-larian ke rumah tetangga, mengajaknya bermain apa saja, bermain lego, bikin kuda-kudaan dari pelepah pisang, atau ke halaman belakang tetangga lain untuk memetik buah kersen yang letaknya di sebelah kandang sapi. Kalaupun ia sedang tidur siang, kita akan acuh tak acuh memanggil namanya dari depan jendela, siapa tahu dia akan mengendap-ngendap turun dari kasur saat ibunya sedang terlelap tidur.

Sekarang? Kita punya ratusan kontak tersimpan di HP. Puluhan grup WA yang notifikasinya sudah lama kita mute (bahkan di-archive, wkwkwk). Angka followers yang bisa dilihat siapa saja, termasuk kita sendiri, di momen-momen tertentu yang tidak ingin diakui. Tapi Pak John Cacioppo, peneliti yang menghabiskan sebagian besar karirnya untuk memahami loneliness, bilang sesuatu yang sederhana tapi cukup menganggu: loneliness bukan soal berapa banyak orang di sekitar kita. Tapi soal apakah kita merasa cukup dimengerti oleh setidaknya satu dari mereka. Hiks.

Setidaknya satu. Satu. Bukan sepuluh, bukan seratus. Satu. Sekarang tahu, kan, kenapa kita bisa duduk di tengah pesta yang ramai dan merasa tidak ada di sana. Kenapa kita bisa punya dua ribu followers tapi ngerasa tidak ada yang beneran kenal kita. Kenapa kita bisa membalas puluhan pesan dalam sehari dan tetap pergi tidur dengan perasaan yang sulit diberi nama. Koneksi dan kedekatan adalah dua hal yang berbeda. Dan kita hidup di zaman yang sangat pandai memproduksi yang pertama, tapi semakin kikuk dengan yang kedua.

Photo by Omar Ramadan on Unsplash

Photo by Omar Ramadan on Unsplash

Mungkin yang perlu digeser bukan kapasitas kita untuk merasa sepi. Sepi itu sinyal, sama validnya dengan lapar, sama biologisnya dengan nyeri. Yang perlu digeser adalah cara kita meresponsnya. Waktu lapar, kita tidak menyalahkan diri sendiri karena butuh makan. Waktu sepi, entah kenapa, kita sering melakukan sebaliknya. Sepi tuh, bukan sifat, bukan hobi, tapi sama-sama sinyal, kayak waktu otak nerima sinyal dari lambung kalau lapar. Cuma kita ga ngakuin aja, denial aja terus, terus aja stress, terus aja tidur malem, terus aja tiba-tiba kebangun di jam 2 dini hari. Tobat mas, tobat, ckckck, kehidupanmu lho.

Kamu pikir ini tulisan buat nasehatin kalian? Hoho tentu tidak, orang sombong seperti saya tak sudi nasehatin kalian, saya ingin pamer! Yakali saya berbusa-busa nasehatin, mending tidur. Tapi tetep sendiri tidurnya, kasian kesepian.

Tapi ya, barangkali tak perlu tiba-tiba membuka diri ke banyak orang. Ga harus yang jadi ekstrovert lalu pandai berbicara dan mengisi keramaian. Minimal kita paham bahwa sepi bukanlah sesuatu yang salah, ia juga bagian dari sistem tubuh yang sama yang membuat kita bisa merasakan kehangatan, kedekatan, dan kehadiran orang lain. Tidak ada yang satu tanpa yang lain. Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu, anugerah. Dan yang kita (kita? lu aja kali, bang) butuhkan bukan solusi, tapi seseorang yang mau duduk di sebelah kita, tanpa banyak kata, tanpa bertanya ada apa. Yang jujur dan tanpa bersandiwara.