Skip to main content
FY
All articles
Essay

Cerita-Cerita dari Meja Makan

Meramu Perjumpaan, Merayakan Perjamuan

  • Essay
  • Medium archive
Originally published on Medium

Meramu Perjumpaan, Merayakan Perjamuan

Photo by Minha Baek on Unsplash

Photo by Minha Baek on Unsplash

Di keluarga kami, bincang-bincang tak pernah mengalir lancar di atas meja makan. Saat pagi hari, ketika aku sedang berada di rumah, sarapan akan dimulai saat jam 8 atau jam 9. Bapak biasanya akan berjalan menuju dapur, menyendok nasi yang masih panas dalam dandang nasi, mengambil ayam goreng dan tahu, dan tidak lupa, kecap manis yang diguyur hampir di seluruh permukaan nasi, kata bapak, kurang nikmat jika tak pakai kecap.

Sementara aku kadang masih bermalas-malasan di kamar. Kadang kalau lapar sudah tak tertahankan, aku akan menemani bapak menyantap sepiring sarapan di meja makan. Tak ada perbincangan di antara kami berdua. Bapak akan sibuk menyuap segenggam nasi yang kecoklatan karena kecap dan potongan ayam, sementara aku sibuk mencari-cari potongan daging di sela-sela gigi. Lontaran kata-kata yang sering muncul dari Bapak biasanya menyuruhku untuk menambah nasi, mengambil lagi sepotong ayam, atau menghabiskan sisa tempe semalam. Kadang aku iyakan perintahnya, kadang aku bilang kalau akan memakannya nanti.

Photo by Melanie Hughes on Unsplash

Photo by Melanie Hughes on Unsplash

Sudah hampir setahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya dalam hidupku, Bapak dilarikan ke rumah sakit. Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Perkiraan, aku sampai di rumah saat hampir maghrib. Ketika kurang lebih 30 menit lagi aku sampai di rumah, handphone di kantong celanaku bergetar berkali-kali. Kupikir Ibuk yang meneleponku, dan pasti bertanya aku sampai di mana, sebab saat itu sudah hampir maghrib. Aku sempat mengecek sekilas, dan benar saja, muncul nama “Bapak” pada layar handphone-ku. Kubiarkan saja, toh hampir sampai. Selang tak berapa lama, aku sampai di depan rumah, tapi Ibuk sudah siap-siap mau pergi membawa tas yang biasanya kami pakai untuk mudik ke Blitar dulu. Belum sempat aku membuka helm, Ibuk berkata kalau Bapak masuk rumah sakit.

Saat itu, Bapak tiba-tiba jatuh di kamar mandi dan hampir seluruh badannya tak bisa digerakkan. Saat aku tiba di rumah sakit, perkataannya tidak begitu jelas. Pada akhirnya, kami menghabiskan waktu satu minggu di rumah sakit. Saat pergantian tahun, riuh kembang api berdentum bergantian tatkala jarum jam menunjuk angka 12. Aku menemani Bapak saat itu. Pulang hanya sesekali untuk berganti pakaian sekalian membeli makan untuk Ibuk. Di rumah, meja makan begitu berantakan, air galon tak terisi, gelas-gelas air mineral yang kosong berserakan. Kondisinya sama saat sore seminggu yang lalu.

Bapak akhirnya pulang, dan saat itu, kami sekeluarga memutuskan merayakan kepulangan bapak. Kami membeli ikan cakalang dan kakap bakar, menyiapkan kare tahu, kepiting kuah kuning, koloke, dan bahkan menu yang seumur hidup tak pernah dihidangkan di rumah, ikan pari. Selain ikan, semuanya dimasak sendiri oleh keluargaku, oleh perempuan-perempuan yang tangannya amat terampil mengolah berbagai bahan, bumbu, dan rempah menjadi hidangan yang tak masuk di akal enaknya. Tentu saja tak lupa sambal bajak yang oleh kakakku sudah disesuaikan tingkat kepedasannya untuk seluruh penghuni rumah.

Meja makan? Tidak terpakai. Kami menggelar tikar di ruang tengah, ruang yang biasanya kami pakai untuk memarkir motor saat malam. Belasan anggota keluarga duduk bersila melingkari hidangan pada pagi hari itu. Perjamuan besar menyambut kembalinya sang kepala suku, hehehe. Celoteh ponakanku yang masih TK kadang membumbui hangatnya suasana pagi itu. Kadang ia dan kakaknya berebut ikan bakar. Cerita tentang langganan tempat kakakku membeli ikan bakar, cerita tentang ikan pari yang cukup mahal jika dibeli di tempat penyetan, atau nasehat kedua kakakku pada Bapak agar tak lupa minum obat yang sudah disarankan oleh dokter.

Seingatku, terakhir kali kami menyantap bersama adalah lebih dari 10 tahun yang lalu. Saat aku masih SD, Bapak dibawakan lobster, bukan udang, bukan kepiting, tapi lobster. LOBSTER, yang lebih besar dari tanganku yang kurus ini. Aku lupa bagaimana Ibuk memasaknya. Yang jelas, malam itu adalah malam paling mewah untuk kami. Bapak, Ibuk, kedua kakakku dan kedua suaminya, bergantian mencomot daging pada badan dan capitnya, sembari duduk di atas jok motor Yamaha Fiz-R yang sejak habis maghrib sudah terparkir di ruang keluarga.

Di keluarga kami, tak pernah ada perayaan meriah yang diulang tiap tahunnya. Meja makan hanyalah tempat singgah, makan sebentar, duduk untuk minum, atau kadang tempat piring-piring dan gelas-gelas disiapkan saat ada acara pengajian di rumah. Ia kehilangan marwahnya. Ibarat kata, nama keluarganya dicatut, Meja Makan bagi kami hanya Meja. Ibuk biasanya akan makan di meja tengah di bawah kipas yang menyala sepanjang hari, aku terkadang makan di situ juga, atau di kamar, di depan TV, di depan laptop, di teras, atau di mana saja aku ingin makan.

Tulisan ini sebenarnya kutulis lebih dari 4 bulan yang lalu, saat mendekati akhir tahun, saat di mana aku sedikit mengingat-ngingat menghabiskan hari-hari di kamar rumah sakit. Saat ini, ada mimpi lain yang ingin kuwujudkan, bercengkerama di meja makan bersama seseorang yang selalu kusebut dalam doa.

Sampai jumpa jamuan berikutnya.