Skip to main content
FY
All articles
Essay

Dan Kematian Makin Akrab

Tamuku bukanlah kaisar-kaisar asing dalam ragam warna, bentuk, dan bahasa bukan pula para utusan pewarta kabar, bujuk, atau ancaman Tamuku…

  • Essay
  • Medium archive
Originally published on Medium

Photo by Tyler Quiring on Unsplash

Photo by Tyler Quiring on Unsplash

Tamuku bukanlah kaisar-kaisar asing
dalam ragam warna, bentuk, dan bahasa
bukan pula para utusan
pewarta kabar, bujuk, atau ancaman
Tamuku adalah orang-orang berjubah duka
bicara dalam bahasa duka
 — Lagu Penggali Kubur, Dea Anugrah

Disclaimer: Tulisan ini adalah uji coba menggunakan mesin AI. Saya tidak memeriksa satu katapun kecuali mengubah judul dan kalimat puisi sebagai pembuka di atas. Berdasarkan penilaian pribadi, tulisan ini jelek, kek, jelek, kek menu mbg. Bagus tidak? Tidak. Waduh.

Ada sesuatu yang duduk di sudut ruangan setiap hari. Kita tahu dia di sana. Kita cuma tidak pernah menyapanya. Dan kita semua sudah menandatangani sesuatu yang tidak pernah kita baca sampai habis.

Maksudnya begini. Coba pikir, kapan terakhir kita benar-benar duduk dan mikirin kematian kita sendiri? Bukan kematian orang lain, bukan karena habis nonton film sedih atau baca berita kecelakaan. Tapi kematian kita. Yang punya nama kita. Yang suatu hari akan datang ke alamat kita.

Kita lebih gampang ngomongin saham yang turun. Cuaca yang tidak bisa ditebak. Drama orang yang bahkan tidak kita kenal. Semua itu lebih mudah dibahas di meja makan daripada satu pertanyaan sederhana: kira-kira kapan giliran kita?

Bukan karena kita tidak tahu jawabannya. Justru karena kita tahu, dan memilih untuk tidak duduk terlalu lama bersama pengetahuan itu.

Yang bikin menarik adalah, di suatu kantor aktuaria di suatu tempat, ada orang yang pekerjaannya sehari-hari adalah menghitung peluang kita mati tahun ini. Dia sudah selesai menghitung sebelum kita sarapan. Dari angka yang dia hasilkan, perusahaan asuransi menentukan berapa premi yang harus kita bayar. Kematian kita sudah ada dalam spreadsheet seseorang. Sudah diberi harga. Sudah dijual dalam bentuk produk keuangan. Dan kita menandatanganinya sambil berharap tidak perlu dipakai.

Nah, yang menganggu bukan fakta bahwa kematian itu pasti. Itu sudah kita terima, setidaknya secara teori. Yang menganggu adalah bahwa dia sudah lama bisa dihitung. Sudah punya kurva. Sudah punya nama.

Namanya Hukum Gompertz. Dan dia sudah ada sejak 1825.

Benjamin Gompertz bukan orang yang kita bayangkan ketika membayangkan seseorang yang menghabiskan hidupnya memikirkan kematian. Dia bukan filsuf. Bukan dokter. Dia aktuaris otodidak di London abad ke-19, yang karena lahir sebagai Yahudi, dikecualikan dari universitas dan belajar matematika sendiri. Dia masuk dunia asuransi jiwa karena itu salah satu dari sedikit pintu yang terbuka untuknya.

Dan di dalam dunia yang penuh tabel dan angka itu, dia menemukan sesuatu yang tidak ada yang benar-benar mencarinya.

Setelah usia 25, peluang kita mati di tahun tertentu tidak meningkat sedikit-sedikit. Dia meningkat secara eksponensial, dengan ritme yang sangat teratur. Setiap 8 tahun kita hidup, peluang kita mati di tahun itu menjadi dua kali lipat dari 8 tahun sebelumnya.

Bukan dua kali lipat lebih berbahaya secara total. Tapi dua kali lipat di tahun itu, dibanding 8 tahun sebelumnya. Dan 8 tahun setelah itu, dua kali lipat lagi.

Dalam angka konkretnya begini. Di usia 25, risiko relatifnya kita pakai sebagai titik awal, nilainya 1. Di usia 33, sudah jadi 2. Di usia 41, jadi 4. Di usia 49, jadi 8. Di usia 57, jadi 16. Di usia 65, jadi 32.

Bukan 32 persen lebih tinggi. Tiga puluh dua kali lipat.

Open interactive embed

Yang bikin ini lebih menganggu dari sekedar angka adalah konsistensinya. Hukum Gompertz berlaku lintas populasi, lintas era, lintas hampir semua variabel yang kita pikir membedakan kita satu sama lain. Orang yang makan sehat dan yang tidak. Yang rutin olahraga dan yang tidak pernah. Orang di abad ke-19 dan orang di abad ke-21. Kurvanya tetap sama, hanya bergeser sedikit ke kanan seiring membaiknya layanan kesehatan.

Kita bisa menunda. Tapi kita tidak bisa mengubah bentuk kurvanya.

Oke, jadi sekarang kita tahu ada kurva eksponensial yang sedang berjalan di dalam tubuh kita sejak usia 25. Pertanyaan logisnya: lalu kita harus ngapain dengan informasi ini?

Jawabannya, berdasarkan observasi terhadap perilaku manusia pada umumnya, adalah tidak melakukan apa-apa. Pura-pura tidak tahu. Lanjutkan scroll. Pesan kopi satu lagi.

Dan ternyata itu bukan kelemahan karakter. Itu fitur.

Photo by Misak Aghababyan on Unsplash

Photo by Misak Aghababyan on Unsplash

Ernest Becker, dalam bukunya The Denial of Death yang terbit 1973 dan memenangkan Pulitzer setahun kemudian, bilang bahwa sebagian besar perilaku manusia yang kita anggap normal, ambisius, atau bahkan mulia, sebetulnya adalah mekanisme pertahanan terhadap satu fakta yang tidak bisa kita terima sepenuhnya: bahwa kita akan mati, dan kita tahu itu.

Becker menyebutnya immortality project. Manusia membangun warisan, mengejar karir, punya anak, mendirikan perusahaan, membuat karya seni, bergabung dengan gerakan sosial, dan mendekorasi rumah dengan tanaman yang selalu mati dalam tiga minggu — semua demi menciptakan sesuatu yang terasa lebih besar dari kematian mereka sendiri.

Dengan kata lain: kita semua sedang mengerjakan proyek yang deadline-nya adalah kematian kita, untuk audiens yang sebagian besar juga akan mati sebelum sempat benar-benar mengapresiasinya.

Produktif sekali kita ini.

Tiga peneliti bernama Greenberg, Pyszczynski, dan Solomon kemudian mengembangkan apa yang mereka sebut Terror Management Theory — kerangka untuk memahami bagaimana kesadaran akan kematian mempengaruhi perilaku manusia secara konkret. Temuannya cukup menganggu. Ketika manusia diingatkan tentang kematian mereka, mereka tidak lantas mulai hidup lebih bermakna. Mereka tidak tiba-tiba menelepon orang tua atau berhenti bergosip. Yang terjadi justru sebaliknya: mereka jadi lebih konsumtif, lebih defensif, lebih menempel kuat pada kelompok dan identitas yang familiar.

Intinya, diingatkan soal kematian membuat kita lebih banyak belanja dan lebih susah menerima perbedaan pendapat.

Tidak ada yang bilang otak manusia itu efisien.

Tapi ada logika yang aneh tapi konsisten di balik ini semua. Kalau kita benar-benar internalisasi fakta bahwa setiap 8 tahun risiko kita berlipat ganda, kita mungkin tidak akan bisa berfungsi dengan normal. Setiap pagi bangun tidur akan terasa seperti membuka laporan keuangan yang angkanya selalu memburuk. Setiap ulang tahun bukan perayaan tapi pengingat bahwa kita baru saja naik satu tangga di kurva yang ujungnya sudah jelas.

Otak kita memilih untuk tidak bekerja seperti itu. Bukan karena bodoh. Karena otak yang terlalu sadar akan kematiannya sendiri adalah otak yang tidak bisa fokus mengerjakan hal-hal yang membuat hidup terasa layak dijalani. Nenek moyang kita yang terlalu banyak memikirkan kematian tidak sempat berburu, tidak sempat makan, tidak sempat punya keturunan. Gen mereka tidak sampai ke kita.

Kita adalah keturunan orang-orang yang pandai tidak berpikir terlalu dalam.

Sekarang ini yang menarik. Gompertz dan Islam sebetulnya sepakat pada satu hal yang paling mendasar: kematian itu pasti, waktunya sudah ada, dan tidak ada yang bisa menggesernya.

Gompertz mengatakannya dalam bahasa kurva eksponensial. Islam mengatakannya jauh lebih awal dan jauh lebih langsung. Dalam QS Al-A’raf ayat 34, Allah berfirman bahwa setiap umat mempunyai ajal, dan apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

Dua sumber yang berbeda abad, berbeda bahasa, berbeda metodologi. Tapi sampai di kalimat yang hampir identik: jadwal itu ada, dan dia tidak menunggu kita siap.

Di sinilah kesepakatannya berakhir, dan percakapan yang lebih menarik dimulai.

Gompertz berhenti di pola. Tugasnya menemukan dan mendokumentasikan kurva itu, bukan menjelaskan apa yang harus kita lakukan dengannya. Sains tidak punya kewajiban menjawab pertanyaan tentang makna. Dia hanya melaporkan apa yang ada.

Islam tidak berhenti di sana.

Tradisi Islam mengenal konsep dzikrul maut, mengingat kematian, bukan sebagai praktik yang morbid tapi sebagai alat untuk hidup lebih hadir dan lebih jujur. Nabi Muhammad SAW bersabda: perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. (HR. Tirmidzi)

Yang menarik adalah framing-nya. Bukan takutlah pada kematian. Bukan bersiaplah untuk mati. Tapi ingatlah, karena dengan mengingat kita jadi lebih tahu apa yang sebetulnya penting.

Terror Management Theory bilang mengingat kematian membuat manusia defensif dan konsumtif. Itu respons alami yang tidak diarahkan. Dzikrul maut menawarkan sesuatu yang berbeda: mengingat kematian bukan untuk takut, tapi untuk tawakkal. Penyerahan yang bukan pasif, tapi justru membebaskan. Karena kalau ajal sudah ditetapkan dan tidak bisa digeser sesaat pun, energi yang selama ini kita pakai untuk cemas tentang kapan bisa dialihkan ke pertanyaan yang lebih produktif: bagaimana.

Gompertz memberi kita kurva. Islam memberi kita cara berdiri di depan kurva itu tanpa hancur.

Photo by César Couto on Unsplash

Photo by César Couto on Unsplash

Sains berkata: ini yang terjadi pada tubuhmu, dan polanya sangat teratur.

Iman berkata: ya, dan justru karena sangat teratur dan sudah ditetapkan, kamu tidak perlu menghabiskan hidupmu dalam kecemasan tentangnya.

Keduanya tidak bertentangan. Keduanya hanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Gompertz menjawab bagaimana kematian bekerja. Islam menjawab bagaimana kita hidup dengan pengetahuan itu.

Dan mungkin itulah yang paling kita butuhkan dari dua sumber yang berbeda ini. Bukan memilih salah satu. Tapi membiarkan keduanya duduk bersama di meja yang sama, masing-masing membawa apa yang mereka punya.

Ada sesuatu yang duduk di sudut ruangan setiap hari.

Sekarang kita tahu namanya. Kita tahu cara kerjanya. Dan mungkin, kita juga punya sedikit lebih banyak alasan untuk tidak takut menyapanya.

Referensi

  1. Gompertz, B. (1825). On the nature of the function expressive of the law of human mortality. Philosophical Transactions of the Royal Society, 115, 513–583.
  2. Shklovskii, B. I. (2005). A simple derivation of the Gompertz law for human mortality. arXiv:q-bio/0411019.
  3. Becker, E. (1973). The Denial of Death. Free Press.
  4. Greenberg, J., Pyszczynski, T., & Solomon, S. (1986). The causes and consequences of a need for self-esteem: A terror management theory. Public Self and Private Self, 189–212.
  5. Carnes, B. A., Olshansky, S. J., & Grahn, D. (1996). Continuing the search for a law of mortality. Population and Development Review, 22(2), 231–264.