Skip to main content
FY
All articles
Essay

Mampus Kau Dikoyak-koyak Ekspekstasi

Berdasarkan pengertian yang teknikal, stokastik berarti sebuah sifat pada peristiwa acak yang dapat dianalisis secara statistika, namun…

  • Essay
  • Medium archive
Originally published on Medium

Berdasarkan pengertian yang teknikal, stokastik berarti sebuah sifat pada peristiwa acak yang dapat dianalisis secara statistika, namun tidak mungkin bisa diprediksi secara akurat. Misalnya, kita tahu bahwa ketika kita melempar dadu, kita PASTI akan mendapatkan mata dadu 1, 2, 3, 4, 5, atau 6, NAMUN kita tidak tahu pasti mata berapa yang akan kita dapatkan. Atau saat melihat langit pada pagi hari dan awan mendung muncul, kadang kita berceletuk, “wah, kayaknya mau hujan, nih.” Kata kayaknya, bisa kita anggap sebagai analisa, bisa kemungkinan hujan 30%, 70%, atau lainnya (di mana ahli meteorologi punya data untuk menghitungnya), dan kita tidak tahu pasti apakah benar-benar akan hujan atau tidak, sebab, mendung tak selalu berarti hujan, naisss.

Photo by Keriliwi on Unsplash

Photo by Keriliwi on Unsplash

Kalau bicara sedikit filosofis, stokastik bisa dianggap semacam filsafat kerendahan hati terhadap kompleksitas semesta. lho, kok bisa? Soalnya, hidup tidak bisa sepenuhnya dibuat model matematika yang kompleks bahkan sederhana, tapi, harusnya bisa dengan pemahaman, kesabaran, dan keberanian untuk tetap bergerak meski hasil akhirnya tak pasti. Rang-orang eksistensialism bilang kalau setiap orang bebas memilih sesuai kehendak mereka sendiri, tapi manusia-manusia penganut stoik bilang kalau hasilnya di luar kendali kita (kayak ada orang yang bilang Takdir Allah setelah bencana bangunan setinggi 4 lantai roboh, padahal secara struktur sudah gagal total, prriittt). Nah, stokastik hadir menjembatani keduanya, di dunia yang random ini, manusia bisa mengarahkan probabilitas hasil hidup dari pilihan-pilihan yang diambilnya, namun harus siap menerima realita yang ternyata di luar dari yang sudah diprediksikan. Kan sudah dibilang, kalau Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.

Lantas, stokastik apaan, bang? Saya googling sama tanya chatgpt, jawabannya ga jelas.

Kemungkinan di dunia emang ga jelas. Memangnya, manusia mana yang bisa ngitung semua kemungkinan-kemungkinan di hidup mereka? Kita pake rumus yang paling sederhana dari peluang, deh. Rumus dasar peluang adalah 𝑃(𝐴)=𝑛(𝐴)/𝑛(𝑆), di mana 𝑃(𝐴) adalah peluang kejadian 𝐴, 𝑛(𝐴) adalah banyaknya cara kejadian 𝐴 dapat terjadi, dan 𝑛(𝑆) adalah total seluruh kemungkinan kejadian (ruang sampel 𝑆). Misal nih, contoh yang sederhana, kita lempar satu koin, mau nyari kemungkinan permukaan yang muncul itu angka. Berarti kan 𝑛(𝐴) cuma 1, lalu dari banyaknya kemungkinan, 𝑛(𝑆), yang ada 2 kemungkinan, antara angka dan garuda. Ya tinggal dibagi, 1 dibagi 2, berarti kemungkinan dapat angka ya setengah.

Photo by Mahen Rin on Unsplash

Photo by Mahen Rin on Unsplash

Sekarang, coba aplikasikan rumus itu di kehidupan sehari-hari. Pas bangun pagi, coba hitung berapa kemungkinan kita bakal sarapan nasi hangat, telur ceplok setengah matang, dan kecap manis? Kita bisa, sih, nulis peluang kejadiannya ada 1, yaitu sarapan nasi hangat dengan telor ceplok setengah matang dan kecap manis. Tapi seluruh kemungkinannya? Ada kemungkinan ketika kita buka kulkas, telurnya habis, ada kemungkinan pas lihat nugget, eh mending nugget aja, ga ribet. Ada kemungkinan, mager masak abis bangun, apalagi kamu tinggal sendiri, ckckck.

Narasi random di atas berawal dari pola pikir deterministik, yang mana pola pikir ini kayak kita berpikir pada satu sistem, ada input, proses, dan output. Secara tidak langsung, pola pikir ini yang bikin quote semacam “usaha tidak mengkhianati hasil”, padahal, mah, kita sebagai manusia, sangat arogan punya pemikiran seperti ini, seolah-olah usaha kita (yang pastinya subjektif) pasti berhasil tanpa ada campur tangan orang lain, dan Tuhan tentunya (untuk kalian yang bilang campur tangan semesta, satu kata: dih). Dan kita berpikir juga seolah-olah, kita pegang kendali penuh atas hasilnya. Padahal, realitanya, kendalinya cukup di input, di usaha.

Nah, stokastik ini menawarkan pola pikir yang berbeda. Dengan pendekatan probabilistik: kita punya kontrol penuh atas usaha kita (leverage penuh), tapi hasil akhirnya tidak bisa kita pastikan sepenuhnya (KAN EMANG GITU BANG?!?!?!???!!). Makanya, kalau sudah tahu hidup itu kayak proses stokastik, yang acak, liar, sering kali tidak masuk akal, penuh ketidakpastian, tapi tetap memiliki pola probabilistik yang samar, kok masih ga percaya adanya Tuhan? Takdir Allah, tuh, pasti, tapi sebagai manusia, kita bisa berikhtiar (memperbesar kemungkinan), lalu bertawakkal (karena Allah memiliki kuasa atas statistika dan distribusi probabilitas-Nya sendiri).

Bang, stokastik itu apa bang? Belum paham aing.

Jadi gini, hidup dengan ekspektasi-ekspektasi itu ga enak kan, ya. Ekspektasi besok berangkat kerja cerah, eh ternyata hujan. Ekspektasi nanti malam mau makan Bebek Purnama Pak Saridin, eh tutup. Ekspektasi naik motor di jalan lancar, tidak macet, eh pas belok ada ibu-ibu ngerem mendadak, eh ada bapak-bapak ngerokok dengan santainya, terus abunya kena mata. Ekspektasi dulu awal-awal kuliah nulis rencana 5 tahun ke depan, pas dibaca lagi, “kayaknya aku udah tersesat jauh, deh”. Cape ga, sih. Ekspekstasi ini kadang bikin kita bereuforia berlebihan, lalu bikin imajinasi-imajinasi yang bagus, melenakan. Padahal, Hidup tuh tidak pernah berjalan linear. Coba pikirkan, berapa persen dari waktu yang kita habiskan, semuanya bisa kita prediksi? Hidup tuh (lagi?), ibarat permainan antara niat dan kebetulan, antara usaha dan takdir,antara determinasi dan chaos. Kita tidak sepenuhnya bebas, tapi juga tidak sepenuhnya terikat. Kita menanam sebab, namun hasilnya tetap bergantung pada banyak hal yang tak kita kuasai: waktu, pertemuan, keberuntungan, kehendak yang lebih besar dari diri kita sendiri (tombo ati~)

Kita adalah bagian yang amat kecil dari keseluruhan sistem di kehidupan ini. Terlalu bajingan jika kita menganggap diri kita sebagai pusat semesta. Tapi, munafik juga kalau kita merasa kerdil lantas tak mau berusaha semaksimal mungkin. Setiap langkah yang kita ambil barangkali adalah bentuk ikhtiar dalam sistem ilahi yang sempurna. Kita melempar “dadu” usaha, tapi Allah yang menetapkan hasilnya.

Photo by Greg Rakozy on Unsplash

Photo by Greg Rakozy on Unsplash

Dan di situlah letak ujian keimanan: apakah kita masih bersyukur ketika hasilnya tidak seperti harapan? Apakah kita tetap tawakkal saat skenario hidup ga sesuai rencana? Kita tidak bisa memaksa dadu jatuh pada angka enam, tapi kita tetap bisa memilih untuk melemparkannya lagi. Itulah bentuk kecil dari pemberontakan terhadap absurditas, keberanian untuk terus hidup, meski tahu hidup ini tidak menjanjikan apa pun, kecuali atas apa yang sudah ditetapkan-Nya. Jadi, jika hari ini kamu gagal, tertawalah sedikit. Itu hanya hasil sampel lain dari distribusi semesta yang rumit. Dan jika kamu berhasil, bersyukurlah tanpa sombong. Takdir Allah selalu punya peran dalam setiap kemenangan. (itu limo perkorone~)

Trus stokastiknya apa massee? duh…

Kayaknya ya (kok ga yakin, bang) proses stokastik itu semacam cara dunia bekerja di bawah kehendak Allah Yang Maha Kuasa (bukan semesta yang bekerja!), sistem di mana semuanya tampak acak dari sudut pandang sains, tapi sebenarnya bergerak dalam pola yang hanya diketahui oleh-Nya. Stokastik menggambarkan hidup yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, yang outputnya tidak bisa ditebak secara pasti, tapi bukan berarti setiap kejadin ada tanpa sebab. Kalau orang sains bilang proses stokastik itu rangkaian kejadian yang bergantung pada peluang dan waktu, bisa pecah kepala kita. Makanya kita punya sudut pandang lain, sudut pandang tentang bagaimana kita tak perlu memahami seluruh pola, kita cukup percaya bahwa dibalik semua ketidakpastian, ada kehendak yang absolut sempurna mengatur setiap kemungkinan di hidup kita, telah diangkat, dan telah kering.

Intinya, selaw aja.

Astaga, nulis panjang-panjang kesimpulan kek ga niat gitu, ckckck.

Serius dikit, barangkali ini bisa jadi renungan (buat saya terutama!), saya ambil dari sebuah website,

Janganlah bersedih dengan nikmat dunia yang luput darimu. Janganlah pula berbangga dengan nikmat yang diberikan padamu. Karena nikmat tersebut dalam waktu dekat bisa sirna. Sesuatu yang dalam waktu dekat bisa sirna tidak perlu dibangga-banggakan. Jadi tidak perlu engkau berbangga dengan hasil yang diperoleh dan tidak perlu engkau bersedih dengan sesuatu yang luput darimu. Semua ini adalah ketetapan dan takdir Allah … Intinya, manusia tidaklah bisa lepas dari rasa sedih dan berbangga diri.
- Asy Syaukani rahimahullah

Seperti biasa, tidak perlu dibawa serius tulisan ini, kebetulan saya gabut, yaudah, nulis aja (tapi ini sudah direncanakan dari berbulan-bulan ya!). Teruslah hidup. Mangprangkeun!