Sekali Lagi, Satu Kali Lagi
Seandainya meminta maaf dan memaafkan diwujudkan dalam bentuk manusia, akan seperti apa bentuknya? Apakah mereka adalah kakak beradik yang…
- Essay
- Medium archive
Seandainya meminta maaf dan memaafkan diwujudkan dalam bentuk manusia, akan seperti apa bentuknya? Apakah mereka adalah kakak beradik yang kadang saling mengganggu tapi selalu dicari saat salah satunya tak ada? Atau mungkin pasangan laki-laki dan perempuan yang saling membutuhkan?

Photo by allison christine on Unsplash
Meminta maaf adalah sosok yang canggung, yang langkahnya sering tertunda oleh gengsi, tapi tetap berani mengetuk pintu meski tangan gemetar. Ia datang dengan wajah yang penuh ragu, membawa kata-kata yang tak pernah mudah diucapkan. Sementara memaafkan adalah sosok yang sudah sejak lama menunggu, menutup jendela pura-pura sibuk, tapi diam-diam melirik ke arah jalan, berharap ada yang pulang. Mereka berbeda, tapi justru karena itulah mereka saling melengkapi, satu mengetuk, satu membuka; satu menunduk, satu merangkul.
Mereka seperti teman lama yang tidak pernah cakap menjaga ego. Ada hari di mana keduanya memilih diam, saling menjauh, menghindari percakapan ibarat bom waktu, yang kapanpun meledak menjadi pertengkaran. Namun, sejauh apa pun mereka melangkah, entah bagaimana, mereka kembali dipertemukan pada persimpangan yang sama. Dan di sana, di sela-sela ramainya percakapan dan lalu lalang, pertemuan itu terasa seperti bisikan kecil dari takdir. Tak banyak kata, tak ada pidato panjang yang berusaha merangkai pembenaran. Hanya senyum kecil tipis, cukup untuk meruntuhkan dinding-dinding yang dibangun amat tinggi. Senyum itu sederhana, tapi di balik kesederhanaannya, ada pengakuan bahwa tanpa kehadiran satu sama lain, dunia terasa lebih sepi.
Terkadang, meminta maaf adalah tanda kelemahan dan kekalahan. Seolah kita telah menyerah, dan terus tunduk pada kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal, dengan kacamata lain, meminta maaf adalah keberanian paling tulus yang bisa kita miliki. Tak semua mau menanggalkan gengsi, berbuat seolah rendah diri, bahkan untuk mengakui luka yang pernah kita miliki. Begitu pula dengan memaafkan, ia tak cukup hanya tentang berkata, “tak mengapa.” Dibalik dua kata sederhana ini, ada badai yang harus ditenangkan, ada luka yang terus-menerus berusaha disembuhkan, ada dendam yang mau tak mau harus dilepaskan. Ia memilih menepi, tak menambah perih, meski sebagian masih berteriak kencang tanpa henti.
Pada akhirnya, mereka akan selalu datang bersama, walaupun tak pernah bersamaan. Meminta maaf berjalan dengan langkah kecil namun ragu, mengetuk pintu dengan pelan, mengucap kata dengan getar dan terputus-putus karena ketakutannya akan penolakan. Memaafkan, meskipun dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh, memilih membuka pintu karena ia tahu bahwa menutup rapat hanya akan membuat jurang makin lebar dan dalam. Rapuh dan mudah pecahnya hubungan manusia hanya bisa diselamatkan oleh keberanian untuk datang dan kerelaan untuk membuka. Tanpa mereka, jurang akan semakin dalam, dinding penghalang akan semakin tebal, yang tersisa hanyalah kesunyian, meski manusia masih duduk bersebelahan.
Barangkali inilah alasan manusia diciptakan untuk berpasangan dengan salah dan benar. Dari kesalahan, kita belajar untuk rendah hati, dari kebenaran, kita belajar untuk tetap teguh. Dan di antara keduanya, meminta maaf dan memaafkan adalah simpul yang menyatukan, rumah dan tempat bertemu yang selalu terbuka. Pada akhirnya, kita adalah sekumpulan salah dan benar. Perasaan kalah dan terluka akan terus ada, namun pilihan untuk sembuh bersama, akan selalu ada.
Maaf, saya ga paham nulis apa ini, cukupkan saja.