Solilokui Rekuiem
Mengepul minyak bakar yang menetes kencang dari lebam biru yang menghitam
- Essay
- Medium archive
Mengepul minyak bakar yang menetes kencang dari lebam biru yang menghitam

Photo by loesthpedi parorrongan on Unsplash
Ketika orang-orang bertanya pekerjaan utamaku apa, aku seringkali enggan menjawabnya. Bukan karena aku tidak percaya diri dengan pekerjaan ini, bukan karena baik atau tidaknya, lokasi yang jauh, nominalnya, halal atau haram, atau apapun bentuk dan predikat yang menempel pada setiap pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan. Pekerjaanku, adalah pekerjaan yang terpaksa karena keberuntunganku lolos dari kesialan.
Tempat bekerjaku bukanlah sebuah kantor megah, namun berupa tanah lapang yang sunyi. Tanah ini terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama, memakan seperempat luas seluruh area kerjaku, dengan bentuk hampir mirip persegi namun dengan pembatas pohon bambu kuning. Pohon bambu ini ditanam dan dibiarkan tumbuh tanpa terawat, untuk memisahkan bagian yang satunya, area pekuburan. Area pekuburan hanyalah tanah kosong dengan gundukan yang terletak tak beraturan, dan di tengah-tengahnya ada beberapa pohon kamboja yang tidak pernah berdaun, namun berbunga, dengan bau yang menusuk hidung. Bagian pertama tadi, yang dikelilingi oleh bambu kuning, adalah area pembantaian. Di sini para tukang jagal mimpi menyiksa mimpi-mimpi yang sudah mulai tumbuh dewasa. Mereka, para mimpi, adalah makhluk yang begitu bercahaya, dengan mata yang berbinar dan tubuh yang rupawan. Sementara para tukang jagal memiliki mata merah menyala dengan tubuh tegap legam. Di area jagal, hanya terdapat bilah sebilah pedang yang amat tajam, batu sungai yang cukup besar dan memiliki permukaan datar untuk mengasah pedang agar tetap tajam, sebuah kursi kayu yang sudah lapuk, dan ruang berukuran 1x2 meter, tanpa sekat, hanya dibatasi oleh garis yang dibuat oleh tukang jagal, dari tetesan darah mimpi yang telah mati.
Lantas, kenapa aku bisa berada di tempat seperti ini? Itu karena aku berhasil menolong salah satu mimpi. Aku tidak tahu siapa namanya, dari mana ia berasal, atau siapa tuannya, yang kutahu saat itu, dia mirip sekali dengan mimpi yang pernah kumiliki. Mimpi terakhir yang berusaha kuselamatkan. Mimpi terakhir yang kuyakini akan tumbuh dewasa dan hidup bahagia. Namun ternyata aku salah. Tepat ketika ujung pedang hampir menggorok dadanya, aku menghentikan si tukang jagal. Lengan kiriku memang terkena sabetan pedang, darah bercucuran, namun tidak begitu dalam. Dalam beberapa jam ke depan aku mendapatkan pukulan yang begitu tumpul di bagian perut, pelipis kanan dan kiri, paha, dan tengkuk kepalaku. Mulut disumpal dengan kain, dan punggungku dipecut menggunakan sebilah bambu yang ternyata diambil dari pembatas bagian di tempat ini. Lantas, bagaimana dengan mimpi yang berusaha kuselamatkan? Ia telah mati, tubuhnya terhempas ke tanah, dadanya terkoyak, dengan mata yang lebam, aku sempat menyaksikan jantungnya masih berdetak pelan, sebelum pompaan darah terakhir melewati aorta yang kini tak berarti apa-apa.
Karena keberanian bodohku, aku dibiarkan hidup. Setelah siksaan berjam-jam, si tukang jagal akhirnya memutuskan bahwa aku harus tinggal di sini. Menyaksikan mimpi-mimpi yang terbunuh, mengasah pedang dan beberapa belati yang baru saja datang diperoleh oleh tukang jagal yang lain. Selain itu, aku mendapat tugas untuk mengubur mimpi yang sudah menjadi mayat, tanpa menyisakan gundukan yang menandakan sepetak liang lahat. Kontrakku? Selamanya. Pendapatanku? Menyaksikan mimpi terbunuh. Kata mereka, itu sepadan dengan ribuan keping emas. Kalau aku menolak? Aku akan bermimpi tanpa pernah bisa kembali. Lantas, kapan aku kembali? Entahlah, aku hanya bisa menunggu seseorang yang begitu baik hatinya, rela berkorban menyelamatkanku.
Di tanah ini, sepanjang hari akan gelap. Dari utara ada seberkas cahaya, bukan matahari, namun cahaya berwarna merah darah, pekat, untuk berpadu dengan kegelapan. Di awal-awal aku terjebak di sini, aku hampir tidak bisa membedakan mana darah yang mengucur dari leher si mimpi, dan pantulan cahaya dari utara itu. Dan bambu kuning yang sempat kuceritakan, sebenarnya tidaklah murni kuning. Pohon yang sudah tua warnanya juga bercampur dengan darah, hanya beberapa bambu muda yang berwarna kuning kehijauan, namun tampak gelap karena tidak ada cahaya matahari. Bunga kamboja yang mekar sepanjang waktu sepertinya beradaptasi dengan ketiadaan cahaya matahari, satu-satunya sumber nutrisi bagi mereka adalah darah pekat, potongan-potongan organ dalam, atau tulang-belulang yang mulai lapuk dihabisi oleh penghuni dalam tanah.
Cerita ini, kutulis lebih dari 3 tahun yang lalu, tentang keinginan menulis cerita fiktif namun tak romantis. Harapanku, tak ada yang membacanya, namun kuingin sekali bisa mengembangkan menjadi cerita yang lebih kompleks, entah kapan.