What I talk About When I Talk About Fear
Ada binatang jalang yang tak bisa dilawan dan dibiarkan menari liar dalam tubuh manusia
- Essay
- Medium archive
Ada binatang jalang yang tak bisa dilawan dan dibiarkan menari liar dalam tubuh manusia

Photo by Ehud Neuhaus on Unsplash
Belasan tahun yang lalu, di suatu malam, kau dititipkan di rumah nenek di perumahan sebab orang tuamu menghadiri resepsi pernikahan anak kolega kantor bapakmu. Biasanya, jam 9 malam mereka sudah pulang dan menjemputmu. Namun malam itu, jarum panjang sudah menunjuk angka 3, namun tak ada tanda-tanda orang tuamu akan datang, tak ada suara motor, tak ada lampu yang menyorot. Berulang kali kau mengintip dari tirai jendela, namun gelap menyelimuti. Nenek sudah tidur di kamar, kau sendirian di kursi depan televisi. Tiba-tiba, di dapur terdengar suara berisik padahal pintu sudah dikunci dan tak ada siapa-siapa di sana. Lantas kau ingat cerita teman di sekolah siang tadi, ada orang kesurupan di SD sebelah saat sedang melakukan pemotongan beberapa batang pohon beringin. Tubuhmu bergidik, merinding, namun enggan melangkah ke dapur untuk mengecek ada apa.
Cih, dasar penakut!
Amigdala, kalo kata pakar (saya hanya nulis, copas, dan sok tahu) adalah bagian dari otak kita yang bentuknya mirip kacang almon, yang berperan sentral dalam memproses dan mengoordinasikan respons adaptif terhadap ancaman. Proses ini melibatkan interaksi kompleks antara struktur limbik, hippocampus, dan prefrontal cortex.
Gokil copas-nya, bwangg
Lantas, ketika kita takut atau merasa terancam, seperti intro anak kecil penakut tadi, amigdala yang bertindak seperti polisi (NB: bekerja dengan benar, sesuai aturan, mengayomi) yang sangat waspada. Dia seperti ngasih kita alarm yang kadang bikin panik, tapi kata amigdala, lebih baik panik daripada terlambat kabur, meskipun di kondisi tadi kabur juga tidak dilakukan, cupu!
Nah, lalu kan saya mikir, cara kerjanya bagaimana, sih? Kan kita disuruh untuk lebih mengenal diri sendiri, ya udah, kita mulai aja dari organ terpenting yang kita miliki, otak kita. Awalnya mau bedah otak saya, tapi kan ga mungkin, jadi mesti cari otak orang lain (kecuali anggota ***, soalnya mereka ga ada otak). Eh ternyata tidak boleh yaa, kan harus bunuh manusia, terus saya juga tidak punya kualifikasi untuk membedah tempurung kepala manusia ketika dia masih hidup. Gimana, dong? Hmmm, pisau yang saya miliki masih terasah tajam, sih.
Ternyata ada cara yang tidak berdosa untuk mempelajari bagaimana otak saya bekerja. Tapi sebelumnya saya mau minta maaf kalau bikin kesal karena lanjutan tulisan ini, takutnya ‘kan berdosa setelah bikin kesal, hehe. Jadi, cara kerja amigdala ini tidak jauh berbeda dengan Kontrol PID dalam sistem pengaturan (nostalgia kita, wak). PID mengatur stabilitas mesin agar tidak melenceng dari keluaran yang diinginkan, bedanya mesin tidak punya rasa panik atau cemas kalau misal ada error temporer pada sistemnya, ga kayak manusia yang tiba-tiba bangun sore hari lalu panik buru-buru nyari seragam sekolah. Nah kalau begitu, bisa saya anggap kalau rasa takut, ancaman, bukan hanya drama emosional, tetapi mekanisme kontrol biologis yang terstruktur, masif, sistematis, terkalibrasi, dan terkadang sedikit terlalu bersemangat.
PID tuh apa, sifu_?_
Kontrol PID itu skema atau formula untuk mengatur keluaran sebuah sistem tertutup dengan mengoreksi error yang muncul pada sistem tersebut.

blok diagram Kontrol PID oleh typhoon-hil
Seperti singkatannya, ada 3 komponen dalam Kontrol PID. P adalah komponen proportional (Kp), yang bertugas merespon besarnya error yang muncul saat ini, persis seperti namanya, dia menghitung berapa proporsi error yang terjadi. Di amigdala, prinsip ini seperti respon instingtif, jadi thalamus langsung mengirim sinyal ke amigdala dan waktu super singkat, misalnya saat kita sedang berjalan kaki, lalu tiba-tiba di depan kita lewat ular dari semak belukar. Nah, kalau ancamannya lebih besar, seperti teriakan ibu saat adzan maghrib berkumandang sementara kau tanpa alas kaki masih sibuk mengejar layangan, amigdala akan merespon lebih cepat lagi, bahkan kakimu tiba-tiba berlari menuju sumber suara. Hiii, takuutt.
I adalah komponen integral (Ki), bagian di mana error di waktu sebelumnya diakumulasi. Seperti penjelasan saya di cerita sebelumnya, integral ‘kan seperti menghitung jumlah dari semuanya, nah di sini diakumulasilah semua error yang terjadi sebelumnya. Di otak kita, kalau masih normal, pasti masih ada memori-memori dari kesalahan dan kebodohan kita, nah kata yang ahli, memori-memori ini disimpan di interaksi amigdala–hippocampus (tidak perlu dikoreksi kalau salah, saya orangnya keras kepala). Semakin besar akumulasinya, barangkali kita akan lebih waspada terhadap ancaman serupa masa lalu, tapi kalau berlebihan, akan menjadi trauma yang membekas. Kayak, kita sudah terbiasa melihat ketidakbecusan pemerintah sejak bertahun-tahun lamanya, lalu ditinggalkan beban traumatis oleh tukang kayu yang menjadi pemimpin tapi kalau ditanya jawabnya, “yo ndak tau kok tanya saya.”
Terakhir nih, D, komponen derivatif (Kd) atau turunan, tugasnya merespons perubahan error dari waktu ke waktu. Nah di kalkulus kan, kalau ada integral, pasti ada turunan, kalau masih ingat, yang simbolnya pakai huruf, seperti d/dx bla bla bla bla. Komponen ini menghitung estimasi error dari perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Di otak, prefrontal cortex punya tugas yang sama, memprediksi risiko atau ancaman, apakah akan bertambah besar, atau malah mengecil risikonya. Misalnya (jangan politik lagi, mas!) kita lagi berjalan di gang gelap, lalu mendengar suara langkah kaki, saat langkah kaki tersebut semakin cepat, otak membuat kita lebih waspada, tapi saat langkah kakinya samar, kita lebih rileks.
Nah, sekarang saya sudah paham masing-masing komponen dan korelasinya dengan otak, lantas pamer apalagi, ya?

Nah, di Kontrol PID itu ada yang namanya tuning. Kalau pas masih kecil, saya tahunya “ngecun” dinamo tamiya, ternyata yang bener “tune”, hahaha. Mirip seperti tuning dinamo agar tamiya melaju lebih kencang, dengan cara menambah lilitan kumparan tembaga, mengganti dengan magnet yang lebih kuat, atau memasang bearing pada ujung as dinamonya, tuning pada Kontrol PID berfungsi agar sistem perbaikan error berperan maksimal, sehingga menghasilkan keluaran yang diharapkan. Apa yang di-tuning? Masing-masing nilai K pada tiap komponen. Apa yang terjadi kalau terlalu over atau malah kurang tuning? Kalau terlalu over, bisa maladaptif, cepat panik padahal masih bisa dibawa selaw, kalau kurang, ga responsif, kurang peka terhadap kondisi sekitar. Lalu, tuning-nya bagaimana? Nah, untuk bagian ini, barangkali saya hanya bisa menjawab dari sisi Kontrol PID, kalau di luar itu, pake otak kalian (literally). ✌️
Dalam perspektif sistem pengaturan, seingat saya, tuning bisa dengan cara merekayasa komponen P, rekayasa kombinasi komponen P dan I, kombinasi komponen P dan D, dan semua kombinasi komponen P, I, dan D, yang mana rekayasa ini yang biasanya paling stabil. Kita bahas satu per satu.
Kalau kita lihat pada blok diagram di atas, komponen Kp hanyalah blok pengali. Artinya dia memperbesar atau memperkecil besaran error. Semakin besar, artinya responnya semakin cepat. Tapi ketika semakin membesar, dia akan berefek ke sistem yang mengakibatkan adanya osilasi, sistemnya jadi tidak stabil. Kalau otak kita terlalu responsif pada semua hal, lalu dianggap semua ancaman, kita mungkin akan jadi orang yang gampang panik, lalu susah percaya pada orang lain, sebaik apapun mereka, lantas sulit untuk meminta tolong atau bahkan berinteraksi. Atau mungkin, seperti orang yang gampang latah. Jadi, yang stabil-stabil aja, ya otak.
Komponen Ki, mengakumulasikan error dari waktu sebelumnya. Memperbesar komponen ini memang berdampak pada “memori” error yang tersimpan dalam sistem, namun, efeknya adalah terjadi overshoot, ada fluke besar yang berimbas pada ketidakstabilan sistem. Lalu, saat semakin banyak memori error yang menumpuk, akan sangat susah untuk kembali stabil. Tapi kalau nilainya terlalu kecil, sistem tidak akan mencapai hasil keluaran yang diharapkan. Mungkin keluarannya stabil, tapi tidak mencapai nilai yang diinginkan. Sama halnya dengan otak kita, terlalu banyak memori buruk di masa lalu, barangkali akan membekas dan meninggalkan sisa-sisa trauma. Mengingat kesalahan mungkin berguna agar kita terhindar dari kesalahan serupa, namun terkadang, ketidakberuntungan menghadapkan kita pada kondisi traumatis, dan membekas dalam waktu yang lama. Namun, melupakan total semua kesalahan, juga bukan pilihan yang bijak, bisa-bisa jadi orang yang nirempati, seperti orang gendut yang punya lahan sawit tapi — text not found —
Yang terakhir, komponen Kd, yang memperkirakan error yang bakal terjadi. Dia menghitung seberapa cepat error berubah. Bukan seberapa besar, yaa, tapi seberapa cepat perubahannya. Kalau nilainya terlalu kecil, dia kurang responsif pada perubahan error sistem, dia baru merespon saat ada perubahan yang signifikan. Tapi, kalau nilainya terlalu besar, dia terlalu responsif, misalnya pada suatu mesin, tiba-tiba mesin tersebut tersenggol badanmu, lalu langsung mati, padahal senggolan ini tak berarti apa-apa pada proses berjalannya mesin itu. Di otak juga seperti itu, kalau dia terlalu responsif, bisa mudah panik dan overthinking. Duduk di kursi, lalu goyang sedikit, panik, denger suara notifikasi Microsoft Teams, bulu kuduk langsung berdiri, mata memerah, keringat dingin. Hiii, takuutt. Tapi otak juga tidak bisa kurang responsif, misal ada ular di depan, lalu otak bilang, “ah tenang, ga punya tangan dia…”
Tiga komponen di atas saling berkaitan satu sama lain, sehingga hanya merekayasa salah satu bisa mempengaruhi performa komponen yang lain. Lantas, bagaimana cara tuning-nya? Saya juga tidak tahu, saya masih belajar, hahahaha. Pakai hati saja.
Ya anggap saja, pada akhirnya, satu bagian sebesar kacang almon pada otak kita saja sudah terlalu kompleks untuk dipahami, lantas bagaimana dengan bagian yang lebih besar lagi? Yang ternyata, di dalam kepala kita “hidup” sebuah sistem yang mendasarkan peranannya pada rasa takut. Lantas, kita (atau setidaknya saya) dengan memetakan komponen proporsional, integral, dan derivatif ke dalam mekanisme biologis, dapat memahami bahwa rasa takut bukan hanya gangguan emosional, melainkan bagian dari arsitektur kendali tubuh yang didesain untuk menjaga kelangsungan hidup. Dan, berkawan dengan rasa takut juga tak ada salahnya.
Di sesak dada
di kering luka
di sisa rindu
atau
di ambang pilu